Libas Rasa Takutmu
“Penginnya sih ikut eks-kul itu, tapi nanti temen-temenku bilang….”“Penginnya sih ikut lomba anu, tapi kalo nanti kalah, gimana ya, malu-maluin sekolah…”
“Pengin sih ikut kursus anu, tapi nanti mama bilang apa…?”
Pernah ngerasain seperti itu? Pengin gimana tapi kok rasanya gimana… Pengin begini tapi takut diomongin begitu. Pengin begitu tapi kok takut begini. Nah, pada kesempatan kali ini kita mo ngebahas tentang rasa takut, khususnya rasa takut yang menghalangi kita dari kesuksesan.
Sebenarnya, kita itu pernah nggak punya rasa takut sedikit pun lho. Masa? Iya, yaitu pada waktu kita kecil banget. Saat kita bayi tepatnya, kita pengin melakukan segala sesuatu, kita pengin mencoba ini dan itu. Belum bisa jalan sudah mencoba jalan. Jika jatuh ya tetap mencoba jalan. Baru bisa jalan, sudah ingin mencoba lari. Baru bisa lari, sudah ingin mencoba memanjat. Jika gagal, ya tetap mencoba terus…
Datangnya Takut
Lalu kapan rasa takut itu muncul? Kita mulai belajar merasa takut pada kegagalan ketika kita terus-menerus dikritik dan dihukum saat mencoba sesuatu yang berbeda atau yang baru. Pernah lihat enggak ada anak kecil yang mencoba memanjat pohon, naik meja, menelepon, lari-lari di lapangan, kemudian ortunya bilang, “Jangan!” atau “Menjauhlah dari sana!” atau “Letakkan itu!” atau “Stop!” Larangan, bentakan, kritik, hukuman, baik fisik maupun verbal yang kita terima membuat kita merasa takut dan tidak aman. Saat mendapatkan respon yang seperti itulah, seorang anak mulai mengenal rasa takut.
Perilaku ortu yang serba melarang, mencela, menghukum itu dengan cepat membuat kita percaya bahwa kita terlalu lemah, tidak kompeten, tidak terampil, tidak pandai, dan tidak mampu untuk melakukan sesuatu yangng baru atau berbeda dari orang lain. Biasanya, kita akan mengekspresikan perasaan ini dengan kata, “Saya tidak mampu,…” Setiap saat, kita berpikir untuk melakukan sesuatu yang baru atau menantang, reaksi otomatis kita biasanya akan berupa perasaan takut, cemas, gugup, dan khawatir.
Takut Gagal
Dua rasa takut yang biasa ada pada diri manusia adalah takut akan kegagalan atau kekalahan dan rasa takut akan kritik dan penolakan. Rasa takut akan kegagalan adalah penyebab utama dari banyak kegagalan yang terjadi pada masa-masa selanjutnya setelah masa anak-anak. SEbagai akibat kritik destruktif yang sering kita terima saat kita masih kecil, kita cenderung tidak berani melakukan banyak hal. Kita tidak mampu menunjukkan seluruh potensi yang kita miliki secara maksimal. Kita akan berhenti bahkan sebelum kita mulai mengerjakan sesuatu untuk pertama kalinya. Bukannya menggunakan akal kita untuk mencari cara bagaimana mendapatkan apa yang kita inginkan, kita malah menggunakan kemampuan kita mencari-cari alasan untuk menyatakan bahwa kita tidak mampu.
Takut Dicela
Rasa takut kedua yang biasa menghambat kemajuan kita adalah rasa takut akan penolakan, plus dengan senjata yang menyertainya: kritikan. Rasa takut ini kita pelajari pada masa anak-anak. Kita biasa melihat ekspresi tidak setuju orang tua kita kteika kita melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai atau saat kita melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang mereka harap. Karena ketidakmampuan kita untuk membuat mereka senang, mereka menjadi marah dan menahan cinta serta dukungan yang sangat kita perlukan sebagai seorang anak.
Rasa takut tidak dicintai dan merasa sendirian akan menjadi trauma bagi seorang anak. AKibatnya, dia cepat-cepat menyesuaikan perilakunya agar sesuai dengan apa yang ia pikir akan disetujui ortunya. Selanjutnya, si anak akan kehilangan spontanitas dan keunikan dirinya. Dia berpikir bawah sadar, “Saya harus begini sesuai ortu saya. Saya akan melakukan apa pun yang ayah dan ibu ingin saya lakukan, kalau tidak, mereka tidak akan mencintai saya, dan saya akan sendirian saja di dunia ini!”
Takut Pangkal Sengsara
Apa hasil dari pendidikan masa kecil yang penuh dengan kritikan, penolakan, dan hukuman ini? Orang yang pasa waktu kecil dibesarkan dalam kondisi seperti itu, akan jadi sensitif banget sama pendapat orang lain. Ekstrimnya, ia tidak akan dapat melakukan apa pun jika ada kemungkinan orang lain akan mencelanya. Sadar atau nggak sadar, dia akan mempersepsi hubungannya dengan orang lain –teman sekolah, guru, teman kerja, pasangan hidup, atasan, tokoh penting- dengan persepsi yang sama yang ia punyai terhadap hubungannya dengan ortu waktu ia kecil. Ia akan mencoba untuk selalu mendapatkan pengakuan dari mereka, atau paling enggak terhindar dari celaan mereka.
Rasa takut akan gagal dan ditolak oleh orang lain yang disebabkan oleh adanya kritik destruktif pada masa kecil adalah penyebab dari hampir semua ketidakbahagiaan dan keresahan yang kita alami pada masa selanjutnya. Kita merasa, “Saya tidak mampu!” atau “Saya harus melakukan ini!” Yang paling berbahaya ialah jika kita merasa bahwa “Saya kudu begini, tapi saya tidak mampu” atau “Saya harus melakukan ini tapi tidak mampu!” atau “Saya tidak mampu tapi saya harus begini atau harus melakukan itu!”
Kita pengin melakukan sesuatu, tetapi kita takut akan mengalami kegagalan atau kerugian. Atau, kalaupun kita tidak takut akan kerugian, kita takut akan dicela oleh orang lain.
Bagi sebagian orang, rasa takut telah menjajah kehidupan mereka. Apa pun yang mereka lakukan akan mereka atur sedemikian rupa sehingga mereka terhindar jauh-jauh dari kegagalan atau kritikan orang lain. Mereka senantiasa mencari jalan yang aman, dan bukannya mengkonsentrasikan diri pada usaha untuk dapat meraih tujuan-tujuan mereka. Mereka lebih memilih mengejar ketentraman daripada peluang.
Kritisilah Perasaanmu
Kamu ingin melakukan sesuatu tapi tidak mampu? Sebentar, kritisilah dulu perasaanmu itu. Benarkah kamu seperti itu? Benarkah kamu tidak mampu? Jangan-jangan itu hanya efek dari buruknya masa kecilmu seperti yang diceritain di atas? Pertanyakanlah kembali perasaan-perasaanmu yang bersifat membatasi potensimu.
Bebaskan dari kepercayaan yang membatasi dirimu itu dengan membayangkan dan menganggap bahwa kepercayaanmu itu, apa pun bentuknya, adalah tidak benar! Bayangkan saat-saat ketika kamu mampu banget melakukan sesuatu. Bayangkan bahwa kamu dapat menjadi atau melakukan apa pun yang benar-benar kamu inginkan dalam hidupmu. Bayangkan kamu dapat menjadi juara sekolah. Bayangkan kamu dapat belajar ke luar negeri.
“Ngritik? Emang Ini Hidupmu?”
Kamu ingin melakukan sesuatu tapi takut dicela, dikritik, diomongin begini begitu? Simak rubrik Spirit ini pada edisi lalu (edisi 11 volume 08, November 2008)!
Yeah, orang lain boleh ngomong seenaknya terhadap kita, tapi ini hidup kita. Jika kita biarkan orang lain mengendalikan hidup kita dengan komentar-komentar mereka, siap-siaplah untuk menjadi seseorang yang bukan dirimu, seseorang yang tertekan oleh omongan orang lain.
Kamu sepenuhnya bertanggung jawab atas dirimu sendiri dan atas segala sesuatu yang terjadi pada dirimu. Jika kamu pengin sesuatu ya semua tergantung pada dirimu untuk melakukan apa pun yang kamu perlukan buat mendapatkannya. Jangan biarkan takut dicela membuat hidup kita terjajah oleh ornag lain sehingga potensi kita menjadi kerdil.
Orang lain boleh komentar bahkan ngomong seenaknya terhadap pilihan dan usaha kita. Kamu juga boleh kok mendengarkan dan mempertimbangkan pendapat orang lain. Tapi, ingatlah bahwa keputusan itu ada di tanganmu. Allah telah beri kemampuan kepada kita untuk memilih dan mengambil keputusan.
Dalam sejarah, orang yang sukses ternyata tidak terlalu terpengaruh oleh kemungkinan apakah orang lain akan menyetujui atau tidak menyetujui tindakan mereka. Mereka tidak merasa bahwa mereka perlu terus-menerus berusaha memperoleh pengakuan orang lain karena mereka tahu persis siapa diri mereka dan siapa yang bukan diri mereka.
Gagal itu Peluang Lho!
Tidak ada orang sukses yang belum pernah gagal. Aneh jika kita berpikir orang sukses itu pasti sukses terus dari awal. Bukankah ada takdir yang baik dan takdir yang buruk? Berarti gagal itu wajar. Kalo wajar, ngapain menakutinya?
Perusahaan Honda didirikan oleh Soijiro Honda, mantan pegawai Toyota. Bagaimana bisa ia mendirikan Honda? Itu semua diawali ketika piston baru rancangannya dilemparkan ke wajahnya oleh atasannya di Toyota, “Ini bukan yang kami cari!”
Kegagalannya membuatnya belajar lagi bagaimana membuat piston yang memenuhi standar Toyota. Setelah dapat, ia pikir-pikir, daripada menjual hasil rancangannya ke Toyota, lebih baik ia bikin perusahaan sendiri. Maka ia mendirikan Honda.
Hanya piston itukah kegagalannya? Bukan. Pabrik kendaraannya hancur lebur seusai Perang Dunia II. Setelah itu krisis minyak melanda Jepang sehingga ia memasang mesin pemotong rumput pada sepeda motornya. ‘Kegagalan’ ini yang mengawali berdirinya perusahaan sepeda motor Honda. Sekarang, siapa yang enggak kenal dengan motor atau mobil Honda?
Kamu tentu pernah dengar kata-kata berikut, “Kegagalan adalah sukses yang tertunda.” Ini benar. Cerita di atas adalah salah satu buktinya.
Jika kita dapat menerima kegagalan sebagai sesuatu yang wajar, selanjutnya, terimalah kegagalan sebagai peluang untuk belajar. Anak kecil yang belajar berjalan, belajar berlari atau memanjat, akan belajar dari kegagalannya secara otomatis. Saat ia jatuh ia akan belajar mengapa ia jatuh, sehingga di saat yang akan datang, ia akan menghindari penyebab jatuhnya tersebut. Honda belajar dari kegagalan perancangan pistonnya sehingga ia tidak takut mendirikan perusahaan baru.
Teruslah Berusaha
Thomas J. Watson, pendiri IBM, pernah mengungkapkan, “Jika ingin meraih kesuksesan dengan lebih cepat, kau harus melipatgandakan tingkat kegagalanmu. Kesuksesan berada di seberang kegagalan.”
Kenyataannya, semakin banyak kamu mengalami kegagalan, semakin kamu dekat dengan gerbang kesuksesan. Kegagalan-kegagalanmu telah mempersiapkan dirimu dalam menghadapi kesuksesan.
Suatu saat, ketika kamu ingin melakukan sesuatu, kamu mungkin akan ketemu dengan rasa takut. Kritisilah perasaan ketidakmampuanmu itu, bertanggung jawablah terhadap hidupmu sendiri, sikapilah kegagalan sebagai peluang untuk belajar, dan teruslah berusaha! Semoga Allah memudahkan langkah kita! (irvsya)
sumber: elfata









0 Comments:
Posting Komentar